top of page

Apa Aja Prinsip Desain di Balik Activity-Based Working?

37false08 GMT+0000 (Coordinated Universal Time)
5 menit membaca

Tiap kantor pengen dua-duanya: buzz orang-orang yang saling mantik ide bareng, dan ketenangan yang dibutuhin buat kerjaan berat yang butuh konsentrasi. Keduanya narik ke arah yang berlawanan. Terlalu banyak energi terbuka dan gak ada yang bisa konsentrasi. Terlalu sunyi dan kantor berasa mati, dan kolaborasi turun.


Layout yang bagus gak milih salah satu. Dia ngasih orang pilihan dan bikin tiap mode works dengan bener. Ini caranya.


Layout kantor modern dengan hub kolaborasi yang hidup dan cafe di satu sisi, zona fokus yang tenang dengan booth akustik di sisi lain, dan buffer storage serta tanaman di antaranya, didesain Kita Design Co. di Jakarta
Layout kantor modern dengan hub kolaborasi yang hidup dan cafe di satu sisi, zona fokus yang tenang dengan booth akustik di sisi lain, dan buffer storage serta tanaman di antaranya, didesain Kita Design Co. di Jakarta


Mulai dari Masalahnya: Dua Kebutuhan yang Beda


Kolaborasi

Deep focus

Yang dibutuhin

Visibility, kedekatan, suara, interaksi yang gampang

Tenang, privasi, minim interupsi

Yang gak disuka

Penghalang, isolasi

Kebisingan, gerakan, diliatin

Space tipikal

Ruang meeting, area project, lounge, pantry

Focus room, quiet zone, area ala perpustakaan

Risiko kalo berlebihan

Interupsi terus-terusan

Isolasi, silo

Kebanyakan orang butuh dua-duanya di hari yang sama. Jadi pertanyaan desain sebenarnya itu gimana ngebiarin mereka pindah antar mode tanpa gesekan.


Prinsip 1: Tawarin Range Space (Activity-Based Design)

Daripada ngasih semua orang satu meja dan berharap, sediain spektrum setting yang cocok buat task yang beda. Campuran yang umum termasuk:

  • Zona kolaborasi:Ā meja project, dinding whiteboard, spot meeting berdiri, dan lounge terbuka.

  • Ruang meetingĀ dalam ukuran yang bervariasi, buat obrolan terencana dan privat.

  • Phone booth dan focus roomĀ buat call dan kerja solo yang konsentrasi.

  • Quiet zoneĀ di dalam area open-plan, dengan aturan yang jelas.

  • Space sosial:Ā pantry, cafe, dan lounge, di mana "tabrakan" kasual terjadi.

  • Home-base deskĀ buat tugas rutin.

Biarin orang milih setting yang cocok sama apa yang lagi mereka kerjain sekarang. Panduan kita soal rasio meja dengan breakout space ngebahas berapa banyak tiap tipe yang direncanain.


Prinsip 2: Zone Lantai Berdasarkan Level Energi

Kelompokin space berdasarkan seberapa berisik dan sibuknya, lalu atur dalam gradasi.

  • Zona high-energy:Ā entrance, reception, pantry, cafe, dan hub sosial, ditaro deket lift atau pintu utama, di mana aktivitas secara natural berkumpul.

  • Zona menengah:Ā meja tim, area project, dan ruang meeting.

  • Zona tenang:Ā focus room, meja tenang, dan area perpustakaan, ditaro jauh dari traffic utama dan area sosial.

Gradasi dari yang hidup ke yang tenang ngebiarin orang milih sendiri dan nyegah space yang paling berisik jatuh di sebelah yang paling tenang.


Prinsip 3: Pake Buffer, Bukan Cuma Dinding

Adjacency terburuk itu hub sosial yang berisik tepat di sebelah area fokus yang tenang. Pake transition space buat misahin keduanya.

  • Storage, locker, dan area printĀ jadi buffer suara dan visual yang berguna.

  • Tanaman dan screenĀ melembutkan sightline dan nyerap sebagian suara.

  • Ruang meeting dan phone boothĀ bisa duduk di antara kolaborasi terbuka dan meja tenang.

  • Rute sirkulasiĀ harus menyisir area tenang, bukan motong lewat situ.

Jarak juga membantu. Kalo space-nya ngizinin, taro zona tenang di ujung lantai yang jauh dari space sosial utama.


Prinsip 4: Perlakuin Akustik sebagai Prioritas Desain

Kebisingan itu musuh utama fokus, sekaligus sumber utama energi kolaboratif. Kontrol, jangan cuma dihilangin.

  • Serap suara:Ā acoustic ceiling, wall panel, flooring lembut, rug, dan furniture upholstered ngurangin gema.

  • Blok suara:Ā pake dinding dan pintu ber-rating suara buat ruangan yang butuh privasi beneran. Dinding kaca tanpa treatment akustik keliatan privat tapi nggak.

  • Samarkan suara:Ā suara latar yang subtle bisa ngurangin gangguan obrolan terdekat di area terbuka, kalo dipake dengan hati-hati.

  • Pisahin dengan jarak dan orientasi:Ā miringin meja menjauh dari area berisik, dan hindarin naro meja fokus di sebelah pintu pantry atau printer.

  • Booth dan pod akustikĀ ngasih opsi tenang cepet pas ruangan penuh gak praktis.


Prinsip 5: Pake Cahaya, Warna, dan Furniture buat Nandain Fungsi

Orang baca sebuah space seketika. Bikin fungsinya jelas.

  • Space kolaborasi:Ā lebih terang, lebih warm, dan lebih bervariasi. Pake furniture fleksibel yang bisa dipindah, permukaan yang bisa ditulis, dan seating yang nyaman.

  • Space fokus:Ā lighting lebih calm, warna muted, seating ergonomis yang nyaman, dan gangguan visual minimal.

  • Flooring atau material yang bedaĀ bisa nandain batas antar zona tanpa dinding.

  • Signage atau visual cue yang jelasĀ nunjukin area mana yang tenang dan mana yang sosial.


Prinsip 6: Kasih Orang Kontrol dan Etiket yang Jelas

Layout cuma works kalo orang berperilaku sesuai dengannya.

  • Definisiin aturannya.Ā Contoh: gak ada call di quiet zone, gak ada "nge-camp" di focus room, batas booking di ruang kecil.

  • Bikin booking simpelĀ dan keliatan, biar ruangan gak ditimbun.

  • Tawarin sinyal,Ā kayak headset, lampu, atau posisi duduk yang bilang ke orang lain "tolong jangan ganggu."

  • Biarin tim membentuk norma mereka.Ā Aturan yang disepakati orang yang pake space-nya cenderung bertahan.


Prinsip 7: Desain buat Ritme Hybrid

Kalo orang masuk terutama buat kolaborasi, kasih mereka space buat itu, dan pastiin opsi fokus tetep ada buat yang perlu konsentrasi di sela-sela meeting.

  • Pertimbangin hari puncak.Ā Area kolaborasi bisa berasa sesak di anchor day, sementara area fokus nganggur di hari yang lebih sepi.

  • Zona fleksibel.Ā Furniture dan layout yang menyesuaikan antara pemakaian kolaborasi dan tenang manfaatin space lebih baik.

  • Support partisipasi remote.Ā Ruangan dengan audio dan video yang bagus memungkinkan hybrid meeting tanpa ganggu meja di sekitar.


Pola Layout yang Works

Pola

Cara kerjanya

Bagus buat

Neighbourhood

Tim punya area home dengan space fokus dan kolaborasi bersama di dekatnya

Tim yang butuh interaksi rutin

Hub dan sayap tenang

Hub sosial dan kolaborasi di tengah, dengan sayap tenang di satu sisi

Lantai ukuran menengah sampe besar

Layer berdasarkan kedalaman

Zona aktif deket entrance, zona tenang lebih ke dalam

Lantai yang panjang dan sempit

Split vertikal

Lantai kolaboratif dan lantai tenang di kantor multi-lantai

Kantor di beberapa lantai


Pendekatan Step-by-Step

  1. Pahami kerjaannya.Ā Tanya tim gimana mereka berkolaborasi dan seberapa banyak waktu fokus yang mereka butuhin.

  2. Daftar aktivitasĀ yang orang lo lakuin tiap hari, dan space apa yang dibutuhin tiap aktivitas.

  3. Zone plan-nyaĀ dari high-energy ke tenang, dan hindarin naro yang berisik di sebelah yang tenang.

  4. Tambahin bufferĀ dan rencanain sirkulasi biar gak motong lewat area tenang.

  5. Specify akustik dari awal,Ā bukan sebagai fix belakangan.

  6. Pilih furniture dan finishingĀ yang nandain fungsi tiap space.

  7. Set etiket dan aturan bookingĀ bareng tim.

  8. Test dan sesuaikan.Ā Amatin gimana orang pake space-nya setelah pindah, dan tune.


Kesalahan Umum

  • Satu lantai terbuka yang besar tanpa opsi tenang,Ā lalu heran kenapa orang pake headphone seharian.

  • Quiet zone di sebelah pantry,Ā atau meja fokus di samping pintu utama.

  • Nganggep ruangan berdinding kaca itu privat.

  • Terlalu sedikit ruangan buat call dan meeting kecil.

  • Naro kolaborasi cuma di ruang meeting,Ā jadi pertukaran informal gak punya tempat buat terjadi.

  • Nyontek layout perusahaan lainĀ tanpa ngecek apakah tim lo kerja dengan cara yang sama.

  • Gak ada etiket,Ā jadi zona yang didesain terbaik pun disalahgunain.


Quick Checklist

  • Apakah ada range tipe space buat task yang beda?

  • Apakah lantai di-zone dari yang hidup ke yang tenang?

  • Apakah ada buffer antara area berisik dan tenang?

  • Apakah performa akustik direncanain, bukan diasumsiin?

  • Apakah lighting, warna, dan furniture nandain fungsi tiap space?

  • Apakah aturannya jelas, dan booking-nya simpel?

  • Apakah plan-nya works di hari puncak maupun hari sepi?


Kesimpulannya

Kolaborasi dan fokus gak harus bersaing kalo layout-nya ngasih masing-masing tempat sendiri. Tawarin range space, zone lantai dari yang hidup ke yang tenang, buffer keduanya dengan storage dan tanaman, perlakuin akustik sebagai isu desain inti, dan set etiket yang jelas. Kantor terbaik ngebiarin orang pindah antara energi dan konsentrasi tanpa effort, dan ngerasa didukung di keduanya.


Kita Design Co. (PT Kita Desain Bersama) itu commercial interior design and build studio berbasis Jakarta yang handle project F&B, retail, klinik, wellness, office, sampe sports & fitness space. Lagi plan kantor? Hubungi kita di www.kitadesign.co.

Komentar


  • Instagram
  • TikTok
  • Facebook

© 2023 by PT Kita Desain Bersama.

Let's Talk

Stay Inspired.

Daftar untuk mendapatkan tips dan wawasan desain bulanan.

Terima kasih telah berlangganan!

© 2023-2026 

by PT Kita Desain Bersama.

bottom of page