top of page

Cara Discover Design Style Brand Lo (Sebelum Lo Design Apapun)

Ini masalah yang beda dari "interior design style mana yang fit sama brand gue" — pertanyaan itu assume lo udah paham brand lo cukup bagus buat di-match ke satu style. Yang ini lebih early dan lebih susah: lo belum punya clear read soal apa itu style brand lo sebenernya, yang bikin tiap decision design downstream berasa kayak nebak.


Ini kejadian lebih sering dari yang orang admit, apalagi sama bisnis yang lebih baru. Lo punya produk, nama, mungkin logo — tapi tanya "apa design style brand lo" dan jawaban jujurnya "gue belum totally sure." Ini cara praktis buat beneran nemuin itu, instead of default ke apapun yang lagi popular sekarang.


Mulai dari Kata-Kata, Bukan Gambar

Instinct-nya itu buka Pinterest duluan. Resist itu — gambar narik lo ke apa yang lagi aesthetically trending sekarang, bukan apa yang specific buat brand lo. Kata-kata itu starting point yang lebih bagus karena lebih susah di-borrow dari tempat lain tanpa lo notice.


Tulis lima sampe tujuh adjective yang describe gimana lo mau orang ngerasa soal bisnis lo — bukan keliatan kayak apa, tapi ngerasa kayak apa. Warm? Precise? Playful? Serious? Rebellious? Comforting? Jangan filter apakah kedengeran cukup "designer." Kata yang specific dan honest works lebih bagus dari yang polished — "sedikit chaotic tapi in a good way" lebih useful dari "eclectic."


Gak yakin visual identity brand lo itu sebenernya apa? Ini exercise praktis buat figure out design style brand lo sebelum satu mood board pun dibikin.

Audit Apa yang Udah Lo Pilih, Bahkan Secara Accidental

Kebanyakan bisnis udah punya style signal yang tersebar di mana-mana, bahkan sebelum ada formal design work yang kejadian — tone caption Instagram lo, font di packaging lo, musik yang main di pop-up terakhir lo, baju yang lo pake secara personal pas represent brand-nya. Gak ada satupun dari ini yang necessarily dipilih secara deliberate, tapi ini real data soal instinct yang udah lo punya.


Lay out semuanya dan cari pattern. Kalo caption lo witty dan irreverent tapi logo lo formal dan buttoned-up, gap itu worth dinotice — biasanya itu berarti salah satu dari keduanya gak beneran match sama brand yang lo bangun, dan worth di-figure out mana yang accidental.


Identify Apa yang Lo React Against

Kadang cara paling clear buat define style itu lewat apa yang lo actively avoid, bukan cuma apa yang lo suka. Lo bosen sama aesthetic beige minimalist yang sama yang setiap cafe baru keliatannya punya? Frustrated sama gimana sterile-nya kebanyakan klinik berasa? Bored sama gimana predictable-nya kebanyakan office design keliatan?


Apa yang lo react against itu sering reveal lebih banyak soal actual point of view lo dibanding list hal-hal yang lo anggep generically nice. Brand yang dibangun sebagian in opposition ke trend cenderung berasa lebih specific dan considered dibanding yang dibangun purely dengan follow apa yang lagi popular sekarang.


Liat di Luar Industri Lo Sendiri

Compare diri lo cuma ke direct competitor cenderung produce style yang jadi versi sedikit beda dari apa yang semua orang di kategori lo udah lakuin. Beberapa brand style yang paling distinctive itu datang dari liat reference yang entirely di luar industri lo — color sensibility fashion label, set design film, album cover, era spesifik dari graphic design — dan nanya apa dari itu yang create feeling yang lo tulis di step pertama.


Di sinilah personal taste jadi legitimate design input, bukan cuma distraction. Kalo lo consistently drawn ke era, artist, atau aesthetic movement tertentu di parts of your life yang totally unrelated, recurring pull itu worth diinvestigate sebagai genuine style signal, bukan didismiss sebagai irrelevant buat "bisnisnya."


Test Style-nya Terhadap Customer Lo yang Sebenernya

Style yang berasa true buat lo secara personal tetep perlu land sama orang yang lo coba reach. Begitu lo punya rough direction, cek itu terhadap actual atau intended customer lo: style ini berasa aspirational buat mereka, alienating, atau right on target? Style yang lo suka tapi consistently confuse atau distance target customer lo itu perlu di-adjust — bukan necessarily di-abandon, tapi di-refine jadi bagian yang genuinely lo itu survive sementara bagian yang actively kerja against bisnis lo direconsider.


Tulis Sebagai Style Statement yang Pendek

Begitu satu direction mulai berasa konsisten, put itu ke dalam written statement yang pendek — dua atau tiga kalimat yang describe style-nya dalam plain language, bukan cuma folder isinya reference image. Sesuatu kayak: "Warm tapi gak cluttered. Confident color choice, tapi selalu grounded sama neutral base. Reference optimism mid-century tanpa berasa kayak costume."


Ini matter karena reference image doang gampang banget di-misinterpret atau drift over time, apalagi begitu orang lain (designer, contractor, team member baru) mulai kerja dari situ. Written statement itu lebih susah buat drift dari-nya, dan ngasih semua orang yang build brand lo — secara visual atau physical — starting definition yang sama buat kerja dari situ.


Proses Simple yang Bisa Diikutin

  1. Tulis lima sampe tujuh adjective yang honest yang describe feeling yang lo mau brand lo create

  2. Audit style signal lo yang udah ada, bahkan yang accidental, buat pattern dan gap

  3. Identify apa yang lo actively react against di kategori lo

  4. Pull reference dari luar industri lo, dan tanya apa specifically yang create feeling yang lo mau

  5. Test direction yang emerging itu terhadap gimana customer lo yang sebenernya kemungkinan bakal respond

  6. Tulis style statement yang pendek dalam plain language, bukan cuma folder isinya gambar


Kesimpulannya

Design style brand lo itu bukan sesuatu yang lo temuin dengan browsing inspiration yang cukup — itu sesuatu yang lo uncover dengan jadi specific soal feeling yang lo beneran coba create, terus notice di mana instinct lo yang udah ada, reaction lo against pilihan yang obvious, dan genuine outside interest lo udah point ke direction yang konsisten. Goal-nya bukan originality demi originality-nya sendiri — tapi specificity. Style yang genuinely punya lo itu lebih susah dibingungin sama competitor dibanding yang di-assemble dari apapun yang lagi trending sekarang.



Kita Design Co. (PT Kita Desain Bersama) itu commercial interior design and build studio berbasis Jakarta yang handle project F&B, retail, klinik, wellness, office, sampe sports & fitness space. Masih figuring out apa style brand lo yang sebenernya? Hubungi kita — ini sering jadi tempat kita mulai sama client baru juga.

Komentar


  • Instagram
  • TikTok
  • Facebook

© 2023 by PT Kita Desain Bersama.

Let's Talk

Stay Inspired.

Daftar untuk mendapatkan tips dan wawasan desain bulanan.

Terima kasih telah berlangganan!

© 2023-2026 

by PT Kita Desain Bersama.

bottom of page