Advice Interior Design Paling Penting yang Gue Kasih ke Tiap Client
- Avina Kantaatmadja

- 11 Agu
- 3 menit membaca
Tiap client datang ke first meeting siap ngomongin material, warna, mungkin Pinterest board yang udah mereka build berbulan-bulan. Gue selalu redirect conversation-nya sebelum kita sampe ke situ, ke satu pertanyaan: apa yang lo mau orang rasain di 10 detik pertama begitu mereka masuk ke space ini?
Bukan mau space-nya keliatan kayak apa. Tapi mau mereka ngerasa kayak apa.

Kenapa Gue Selalu Mulai dari Sini
Gue gak masuk ke industri ini lewat design school — background gue itu finance, marketing, product management. Gue spend bertahun-tahun bikin sistem jauh sebelum gue pernah spesifikasi material, dan background itu yang ubah gimana gue mikirin physical space. Sistem itu gak mulai dari apa yang dia keliatan. Dia mulai dari apa yang dia perlu lakuin, dan buat siapa.
Interior itu sama. Bukan decoration yang duduk di atas bisnis — tapi sistem yang either support gimana brand lo operate atau diem-diem kerja against itu. Dan cara paling cepet buat tau apakah suatu design decision itu bener bukan "ini keliatan bagus gak" — tapi "ini create feeling yang customer gue perlu rasain, di moment mereka perlu rasain itu gak."
Apa yang Kejadian Kalo Lo Skip Step Ini
Gue udah liat ini kejadian dengan cara sebaliknya cukup banyak, biasanya sama bisnis yang gak design dengan cara ini secara sengaja — mereka cuma mulai dari apa yang keliatan bagus, satu decision at a time. Lighting fixture yang gorgeous di sini, material yang lagi trending di situ, layout yang di-copy dari tempat lain yang bagus difoto. Tiap pilihan individually bisa defensible. Hasilnya sering jadi space yang gak add up ke satu feeling yang jelas. Keliatan fine di foto dan berasa kayak nothing in particular pas lo beneran berdiri di dalemnya.
Itu real cost dari skip pertanyaan ini. Bukan karena space-nya keliatan jelek — sering kali enggak. Tapi karena space-nya gak do any work buat bisnisnya. Dia gak build trust, gak signal positioning, gak bikin orang mau stay sepuluh menit lebih lama atau balik lagi minggu depan. Dia cuma ada di situ.
Gimana Feeling Itu Jadi Brief
Begitu client bisa beneran jawab pertanyaan feeling-nya — calm dan unhurried, atau energetic dan social, atau premium dan considered, atau warm dan familiar — semua yang lain di proses jadi lebih gampang, karena sekarang ada filter buat tiap decision yang datang setelahnya.
Material either support feeling itu atau enggak. Layout either reinforce itu atau kerja against itu. Warna, lighting, acoustic, bahkan di mana host stand-nya diposisiin — semuanya dievaluasi terhadap standard yang sama, instead of tiap elemen dinilai sendiri-sendiri, secara isolated, disconnected dari apa yang space-nya sebenernya harus lakuin.
Ini juga, honestly, di mana color combination yang gue suka banget — yang gue pull dari sebuah painting, fashion look, brand yang gue admire — beneran earn their place di suatu project. Mereka gak ada di situ karena gue personally suka. Mereka ada di situ karena mereka create feeling spesifik yang brief-nya minta. Kalo enggak, mereka gak belong, no matter seberapa gue suka sama mereka on their own.
Kenapa Advice Ini Applies ke Semua Kategori
Gue udah kasih advice yang sama di project F&B, toko retail, klinik, office, wellness space — kategorinya berubah, tapi pertanyaannya enggak. Klinik butuh orang buat ngerasa safe dan cared for dalam hitungan detik begitu mereka masuk. Bar butuh orang buat ngerasa kayak mereka udah step ke tempat yang worth buat stay. Office butuh orang buat ngerasa kayak kerjaan yang happen di situ itu matter. Feeling-nya beda tiap kali. Discipline buat mulai dari situ, sebelum satu material pun dipilih, enggak.
Kesimpulannya
Kalo ada satu hal yang gue mau tiap business owner bawa pulang sebelum mulai design project, ini dia: jangan mulai dari apa yang lo mau space-nya keliatan kayak apa. Mulai dari apa yang lo mau orang rasain di moment mereka berdiri di dalemnya. Semua yang lain — material, layout, warna, lighting — itu cuma jawaban dari pertanyaan itu, di-work out dalam bentuk physical.
Avina Kantaatmadja adalah founder Kita Design Co. (PT Kita Desain Bersama), commercial interior design and build studio berbasis Jakarta yang handle project F&B, retail, klinik, wellness, office, sampe sports & fitness space.



Komentar